"Minit bici inik Indinisii midi rindih, yi."
Minat baca rendah anak muda Indonesia adalah mitos, yang ada mereka hanya kekurangan akses buku (yang baik). Percaya dengan saya, jika gerbang buku dibuka seluas-luasnya (untuk pelosok yang tidak terjangkau), akan tertanam budaya baca yang sedang diidam-idamkan pembaca nonreguler seperti saya, kejadian. Senangnya minta ampun.
Bukan tidak mungkin bener ada tahun lagi, anak-anak SMA di Indonesia sudah lihai membincang kemahiran imajis dalam puisi Aan Mansyur, gaya bercerita Sabda Armandio yang brilian, atau naskah-naskah Utuy Tatang Sontani yang rawan hilang.
Saya, sih, sudah lewat. Meski merasa masa pubertas membaca saya masih belum usai. Semasa SMA, saya cuma sempat ketawa-ketiwi di atas novel Raditya Dika. Dipenjara dalam kungkungan LKS dan buku paket. Barangkali sekarang baru mulai dewasa dalam membaca, atau bahkan belum sama sekali.
No comments:
Post a Comment