Kenangan

Sejak jejak-jejakmu mengering
hari-hari mulai menguning
kalender, jambangan, jendela
tak pernah mengidung
selembut sebelumnya
kepala terkurung tubuh terkepung
dalam ruang gelap berdinding putih
kesedihan makin mensketsa

perjalanan-perjalanan
adalah peta menuju selasar
penuh dengan pertanyaan:
bagaimana bisa aku menatap
ke sana, sedang mataku terbang
kemana-mana seperti gagak
yang tidak tahu untuk siapa
dia meratus setiap malam
kalau bukan untuk mengheningkan cipta

sedangkan kenangan memilih buyar
menjadi butiran angin yang pirau 
seolah mencari tempat sembunyi
seperti buritan Titanic
basah, redum, dan ringkih

semua hilang entah mengapa
wajahmu memudar dari figura
suaramu berderau ke angkasa
menyepertikan diriku sirna
dari duniaku sendiri

2020

1 comment:

Palung Terdalam

Arsip Ulun