Pandemi Mengatakan bahwa Indonesia itu Belum Cukup

Akibat pandemi ini, kita jadi tahu bahwa Indonesia tidak sedang "cukup" jumlah pekerja medis, alat-alat medis, ranjang rumah sakit, hingga darah hasil donor. Sayangnya, sudah jarang kita melihat di meja anak SD yang bertuliskan, "aku mau jadi dokter," ketimbang, "aku mau jadi Youtuber."

Maksudnya, bahwa ini memang bencana, tetapi juga ini adalah penanda bahwa Indonesia memang serba belum cukup. 


Menikah belum cukup umur, komentar belum cukup membaca, kecewa belum cukup bersyukur, dan merasa benar belum cukup melihat kesalahan dalam dirinya.

Dunia itu serba belum cukup, Teman-teman. Tetapi percayalah, setiap kali kita mencoba, bergerak, tersenyum, menerima segala hal, dan tidak pernah merasa cukup, kita akan terus melanjutkan apa yang kita sebut "kehidupan".


Mention perihal kurangnya dokter, pasti kita akan serentak menjawab, "biaya kuliah kedokteran itu malah, Bambang!" Biaya "mahal" kuliah kedokteran di Indonesia, sebetulnya sudah coba diredam pemerintah lewat sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal), sehingga ada sekitar 30% mahasiswa kedokteran di Indonesia yang hanya terbebani biaya 500 ribu per semester (UKT Golongan I). Walaupun, sepertinya kita masih saja kekurangan.


Indonesia mempunyai 160 ribu dokter (data IDI, 2019). Jika dirata-rata dengan jumlah warga di Indonesia (267 juta, Data BPS [2019]), satu dokter Indonesia menangani 1.668 warga. Tentu ini data yang tidak akurat, jika ditilik pada distribusi dokter di setiap daerah. Dalam perhitungan WHO, Indonesia punya 4,67 dokter per 10.000 populasinya. Dibandingan Malaysia, 15,36 dokter untuk 10.000 populasi, sampai kita menangis apabila melihat kemajuan Singapura yang mempunyai 22,94 dokter untuk 10.000 populasinya. (Data WHO, Tirto)


Tantangan bagi Indonesia untuk mempersiapkan hal yang preventif seperti dokter dan perawat, dengan menekan biaya kuliah kedokteran dengan cara yang tidak merugikan, tentunya. Atas dasar kemanusiaan dan keadilan, saya yakin Indonesia bisa minimal mempunyai 10 dokter untuk 10.000 populasinya pada akhir 2021.


Ingin rasanya stereotipe "anak kedokteran cuma orang kaya" bisa tergerus nyata. Bahwa semua pemuda Indonesia yang punya keyakinan dan kemauan yang kuat untuk berkontribusi di bidang tersebut, bisa tercapai. Semangat untuk para dokter! Kalian hebat, kuat!


Rujukan
1. https://tirto.id/menanti-pemerintah-meredam-mahalnya-biaya-jadi-dokter-bTm7
2. https://m.detik.com/health/berita-detikhealth/d-4375168/kata-siapa-jadi-dokter-kuliahnya-mahal
3. https://amp.tirto.id/kekurangan-dokter-di-tengah-covid-19-akibat-sekolahnya-mahal-eMka
4. https://www.persi.or.id/artikel-org/115-indonesia-masih-kekurangan-tenaga-dokter
5. https://amp.tirto.id/idi-jumlah-dokter-mencukupi-sistem-distribusinya-belum-optimal-djwT
6. https://m.watyutink.com/topik/humaniora/Sekolah-Dokter-Mahal-Biaya-Kesehatan-Selangit

No comments:

Post a Comment

Palung Terdalam

Arsip Ulun