Kajian Semiotik Puisi "Ketidakmampuan" Karya M. Aan Mansyur





Ketidakmampuan

Mereka yang asing dan tidak
mengenal namaku adalah
kekasihku—termasuk langit, bunga-
bunga, buku-buku tua, segelas kopi dan anak kecil.

Aku tidak ingin mencintai
pahlawan—mereka yang
pandai dan mampu mengubah
penderitaan orang lain jadi
senyuman. Aku tidak mau melihat
orang yang kucintai berubah jadi
patung di taman kota atau poster
di dinding sekolah dan diabaikan.

 1.1 Analisis Aspek Sintaksis
Puisi “Ketidakmampuan” terbangun atas dua larik. Larik pertama terdiri dari lima bait, dan larik kedua terdiri dari delapan bait. Terdapat tanda baca final di akhir masing-masing bait. Di lihat dari totalitas makna, maka puisi ini terdiri dari tiga kalimat, yang seluruhnya adalah kalimat tunggal.
Kalimat pertama adalah Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku—termasuk langit, bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil yang memiliki kontruksi sebagai berikut, --Mereka yang asing-- berfungsi sebagai subjek, --dan tidak mengenal-- berfungsi sebagai predikat, --namaku-- sebagai objek, adalah –kekasihku-- sebagai keterangan satu, --termasuk langit, bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil-- sebagai keterangan dua. Klausa Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku menjadi rujukan bahwa aku lirik mengabarkan dua atau lebih orang yang dibuktikan dengan pronomina Mereka, dapat dikatakan sebagai kekasihku atau kekasih aku lirik. Keterangan yang termuat dalam kalimat ada dua. Keterangan satu memberitahukan peran Mereka. Kemudian, keterangan dua menjelaskan asumsi sebelumnya.
Kalimat kedua adalah Aku tidak ingin mencintai pahlawan—mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi senyuman. –Aku-- sebagai subjek, --tidak ingin mencintai-- sebagai predikat, --pahlawan-- sebagai objek,mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi senyuman-- sebagai keterangan. Klausa Aku tidak ingin mencintai pahlawan menunjukkan perasaan gundah ketidakmauan aku lirik, yang kemudian dijelaskan pada keterangan.
Kalimat ketiga adalah Aku tidak mau melihat orang yang kucintai berubah jadi patung di taman kota atau poster di dinding sekolah dan diabaikan. –Aku-- sebagai subjek, --tidak mau melihat-- sebagai predikat, --orang yang kucintai— sebagai objek, --berubah jadi patung di taman kota atau poster di dinding sekolah dan diabaikan—sebagai keterangan. Hampir serupa dengan kalimat kedua, pada kalimat ketiga menjadi penguraian ketidakmauan aku lirik, namun dalam hal yang berbeda. Pada kalimat kedua menjelaskan ketidakmauan aku lirik tidak mau mencintai, kemudian pada kalimat ketiga, ketidakmauan aku lirik melihat orang yang dicintai-nya.

1.2 Analisis Aspek Semantik
1.2.1 Denotasi dan Konotasi
Ketidakmampuan menjadi kata yang dipilih untuk merepresentasikan isi puisi ini secara implisit adalah rangkuman dari setiap substansi di tiap-tiap bait. Kata ketidakmampuan memiliki denotasi yakni keadaan tidak mampu atau tidak kuat, dalam hal ini aku lirik sedang memberitakan keadaan hatinya yang merasa tidak mampu untuk ditinggal sang kekasih.
Kalimat pertama adalah Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku--termasuk langit, bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil memiliki makna denotasi, yakni aku lirik mengungkapkan bahwa semua orang yang tidak pernah saling kenal-mengenali bisa menjadi kekasih atau sahabatnya. Dalam hal ini, bisa diartikan bahwa aku lirik adalah orang yang ramah. Dari keterangan yang tercantum di atas, bahwa pronomina Mereka, antara lain, langit, bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil. Semuanya punya konotasi masing-masing. Langit adalah penggambaran dari orang yang punya derajat di atasnya. Bunga-bunga adalah penggambaran dari wanita. Buku-buku tua adalah penggambaran dari guru-guru. Pagi adalah penggambaran dari waktu yang sibuk. Segelas kopi adalah penggambaran dari waktu luang. Anak kecil adalah penggambaran dari waktu bersenang-senang.
Kalimat kedua adalah Aku tidak ingin mencintai pahlawan—mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi senyuman bermakna konotasi yakni aku lirik mengungkapkan bahwa ketidakmauan dia tentang seseorang yang dicintai adalah orang yang terkenal yang diasosiasikan dengan kata pahlawan. Kemudian dijelaskan bahwa seseorang yang dicintainya ini disukai banyak orang. Itu bisa membuat aku lirik cemburu.
Kalimat ketiga adalah Aku tidak mau melihat orang yang kucintai berubah jadi patung di taman kota atau poster di dinding sekolah dan diabaikan memiliki makna konotasi bahwa ketidakmauan aku lirik melihat sang kekasih menjadi perhatian dan disukai banyak orang. Mungkin dalam hal ini, bisa dikatakan sebagai model. Karena diasosiasikan dengan kata poster. Model dan poster sama-sama mempunyai keadaan membawa kabar atau informasi tertentu. Entah itu berupa pakaian atau pun teks.

1.2.2 Majas
Beberapa majas terlihat dalam puisi “Ketidakmampuan”. Sehingga keutuhan puisi tersebut cukup menarik dibaca dan diulas. Dari tiga kalimat yang tersedia. Beberapa majas bisa ditemui.
Kalimat pertama adalah Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku--termasuk langit, bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil, ditemukan majas hiperbola Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku terutama pada kata kekasih yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. Di mana bertentangan apabila membayangkan Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku bisa menjadi kekasih. Di sini sangat terlihat bagian yang dilebih-lebihkan. Kemudian terdapat majas asosiasi pada bagian perumpamaan di beberapa kata, di antaranya, langit adalah penggambaran dari orang yang punya derajat di atasnya. Bunga-bunga adalah penggambaran dari wanita. Buku-buku tua adalah penggambaran dari guru-guru. Pagi adalah penggambaran dari waktu yang sibuk. Segelas kopi adalah penggambaran dari waktu luang. Anak kecil adalah penggambaran dari waktu bersenang-senang.
Kalimat kedua adalah Aku tidak ingin mencintai pahlawan—mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi senyuman, terdapat majas ironi pada bagian mencintai pahlawan. Kata pahlawan digunakan untuk mengibaratkan orang-orang yang dilihat dan dianggap hebat oleh orang banyak. Kemudian terdapat majas metafora pada bagian mengubah penderitaan orang lain menjadi senyuman. Kata senyuman mengiaskan kebahagiaan. Kemudian bisa dikatakan bagian mengubah penderitaan orang lain menjadi senyuman bermakna membuat orang yang sedih menjadi bahagia. Dalam hal ini, sosok pahlawan dalam bait ini diumpamakan sebagai sosok artis yang terkenal. Artis dikenal sebagai sosok yang bisa membuat peminatnya senang.
Pada kalimat ketiga, yakni Aku tidak mau melihat orang yang kucintai berubah jadi patung di taman kota atau poster di dinding sekolah dan diabaikan terdapat majas perumpamaan atau asosiasi pada bagian patung di taman kota atau poster di dinding sekolah. Pada bagian tersebut, patung di taman kota mengiaskan seorang yang terkenal dan menjadi perhatian banyak orang. Kemudian poster di dinding sekolah mempunyai makna yang hampir sama dengan bagian majas alegori sebelumnya.

1.2.3 Isotopi
Pada puisi “Ketidakmampuan”, terdapat empat penggunaan isotopi. Isotopi yang hadir adalah benda, manusia, aktivitas, serta ruang dan waktu.
1. Isotopi Benda
Kata/Frase yang memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Keras
Lunak
Bunga-bunga
d/k
-
+
Buku-buku tua
d/k
+
-
Segelas kopi
d/k
-
+
Patung
d/k
+
-
Poster
d/k
-
+
Dinding sekolah
d/k
+
-

Dalam isotopi benda, kata atau frase yang termasuk adalah bunga-bunga, buku-buku tua, segelas kopi, patung, poster dan dinding sekolah. Dari keenam kata atau frase tersebut, mempunyai makna denotasi maupun konotasi dan punya sifat yang berimbang, antara keras dan lunak.
2. Isotopi Manusia
Kata/Frase yang memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Tunggal
Jamak
Kekasihku
d/k
+
+
Anak kecil
d/k
+
-
Pahlawan
d/k
+
+
Mereka
d
-
+
Aku
d
+
-
Orang lain
d/k
+
+

Dalam isotopi manusia, terdapat kata atau frase kekasihku, anak kecil, pahlawan, mereka, aku dan orang lain yang bermakna denotasi maupun konotasi. Kelima kata atau frase tersebut, didominasi oleh keadaan tunggal.
3. Isotopi Aktivitas
Kata/Frase yang memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Sebentar
Lama
Mengenal
d
-
+
Pandai
d/k
-
+
Penderitaan
d/k
+
+
Senyuman
d/k
+
-
Mencintai
d
+
+
Mengubah
k
-
+

Dalam isotopi aktivitas, kata atau frase yang termasuk adalah mengenal, pandai, penderitaan, senyuman, mencintai, dan mengubah. Dari keenam kata atau frase tersebut bermakna denotasi maupun konotasi, dan didominasi dengan keadaan yang berlangsung lama.
4. Isotopi Ruang dan Waktu
Kata/Frase yang memiliki Isotopi
Denotasi/Konotasi
Komponen Makna Bersama
Berwujud
Abstrak
Langit
d/k
-
+
Pagi
d/k
-
+
Taman kota
d/k
+
-

Dalam isotopi ruang dan waktu, terdapat tiga kata atau frase, yaitu langit, pagi, dan taman kota yang mempunyai makna denotasi maupun konotasi. Dari kata atau frase tersebut, didominasi oleh makna bersama abstrak.

1.3 Pragmatik
Dalam puisi “Ketidakmampuan”, aku lirik sebagai persona pertama yang dibuktikan oleh kehadiran pronomina Aku dan enklitik -ku, dan juga memandang persona ketiga yang dibuktikan oleh kehadiran pronomina Mereka.
Kalimat pertama adalah Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku--termasuk langit, bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil, dapat terlihat kehadiran persona ketiga oleh kehadiran pronomina Mereka. Di mana aku lirik menunjukkan persona ketiga yang asing dan tidak mengenal nama aku lirik, dibuktikan oleh kehadiran enklitik –ku.
Kalimat kedua adalah Aku tidak ingin mencintai pahlawan—mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi senyuman, terdapat persona pertama Aku yang menjadi tanda bahwa aku lirik jelas sebagai pencerita utama di sini. Kemudian muncul kembali pronomina Mereka yang menandakan persona ketiga.
Pada kalimat ketiga, yakni Aku tidak mau melihat orang yang kucintai berubah jadi patung di taman kota atau poster di dinding sekolah dan diabaikan sama seperti kalimat kedua, terdapat persona pertama Aku yang menjadi tanda bahwa aku lirik jelas sebagai pencerita utama di sini.
Dari uraian di atas, kehadiran pronomina persona pertama menandakan aku lirik sebagai pencerita utama dan pembaca akan merasa dekat ketika membaca puisi ini. Tidak ada kalimat langsung di puisi “Ketidakmampuan” ini.

No comments:

Post a Comment

Palung Terdalam

Arsip Ulun