Ketidakmampuan
Mereka yang asing dan tidak
mengenal
namaku adalah
kekasihku—termasuk
langit, bunga-
bunga,
buku-buku tua, segelas kopi dan anak kecil.
Aku
tidak ingin mencintai
pahlawan—mereka
yang
pandai
dan mampu mengubah
penderitaan
orang lain jadi
senyuman.
Aku tidak mau melihat
orang
yang kucintai berubah jadi
patung
di taman kota atau poster
di
dinding sekolah dan diabaikan.
1.1 Analisis Aspek Sintaksis
Puisi “Ketidakmampuan” terbangun atas dua
larik. Larik pertama terdiri dari lima bait, dan larik kedua terdiri dari
delapan bait. Terdapat tanda baca final di akhir masing-masing bait. Di lihat
dari totalitas makna, maka puisi ini terdiri dari tiga kalimat, yang seluruhnya
adalah kalimat tunggal.
Kalimat pertama adalah Mereka
yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku—termasuk langit,
bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil yang memiliki kontruksi sebagai
berikut, --Mereka yang asing-- berfungsi sebagai subjek, --dan
tidak mengenal-- berfungsi sebagai predikat, --namaku-- sebagai objek,
adalah –kekasihku-- sebagai keterangan satu, --termasuk langit, bunga-bunga,
buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil-- sebagai keterangan
dua. Klausa Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku menjadi rujukan
bahwa aku lirik mengabarkan dua atau lebih orang yang dibuktikan dengan
pronomina Mereka, dapat dikatakan sebagai kekasihku atau kekasih
aku lirik. Keterangan yang termuat dalam kalimat ada dua. Keterangan satu
memberitahukan peran Mereka. Kemudian, keterangan dua
menjelaskan asumsi sebelumnya.
Kalimat kedua adalah Aku tidak ingin mencintai
pahlawan—mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi
senyuman. –Aku-- sebagai
subjek, --tidak ingin mencintai-- sebagai predikat, --pahlawan-- sebagai
objek,—mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi
senyuman-- sebagai keterangan. Klausa Aku tidak ingin mencintai
pahlawan menunjukkan perasaan gundah ketidakmauan aku lirik, yang
kemudian dijelaskan pada keterangan.
Kalimat ketiga adalah Aku tidak mau melihat orang yang
kucintai berubah jadi patung di taman kota atau poster di dinding sekolah dan
diabaikan. –Aku-- sebagai subjek, --tidak mau melihat-- sebagai
predikat, --orang yang kucintai— sebagai objek, --berubah jadi patung di taman
kota atau poster di dinding sekolah dan diabaikan—sebagai keterangan. Hampir
serupa dengan kalimat kedua, pada kalimat ketiga menjadi penguraian
ketidakmauan aku lirik, namun dalam hal yang berbeda. Pada kalimat kedua
menjelaskan ketidakmauan aku lirik tidak mau mencintai, kemudian pada
kalimat ketiga, ketidakmauan aku lirik melihat orang yang dicintai-nya.
1.2 Analisis Aspek
Semantik
1.2.1 Denotasi dan Konotasi
Ketidakmampuan menjadi kata yang dipilih
untuk merepresentasikan isi puisi ini secara implisit adalah rangkuman dari
setiap substansi di tiap-tiap bait. Kata ketidakmampuan memiliki denotasi yakni
keadaan tidak mampu atau tidak kuat, dalam hal ini aku lirik sedang
memberitakan keadaan hatinya yang merasa tidak mampu untuk ditinggal sang
kekasih.
Kalimat pertama adalah Mereka
yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku--termasuk langit,
bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil memiliki makna denotasi, yakni aku
lirik mengungkapkan bahwa semua orang yang tidak pernah saling kenal-mengenali
bisa menjadi kekasih atau sahabatnya. Dalam hal ini, bisa diartikan bahwa aku
lirik adalah orang yang ramah. Dari keterangan yang tercantum di atas, bahwa
pronomina Mereka, antara lain, langit, bunga-bunga, buku-buku tua, pagi,
segelas kopi dan anak kecil. Semuanya punya konotasi masing-masing. Langit
adalah penggambaran dari orang yang punya derajat di atasnya. Bunga-bunga
adalah penggambaran dari wanita. Buku-buku tua adalah penggambaran dari
guru-guru. Pagi adalah penggambaran dari waktu yang sibuk. Segelas kopi adalah
penggambaran dari waktu luang. Anak kecil adalah penggambaran dari waktu
bersenang-senang.
Kalimat kedua adalah Aku tidak ingin mencintai
pahlawan—mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi
senyuman bermakna konotasi yakni aku lirik mengungkapkan bahwa ketidakmauan
dia tentang seseorang yang dicintai adalah orang yang terkenal yang
diasosiasikan dengan kata pahlawan. Kemudian dijelaskan bahwa
seseorang yang dicintainya ini disukai banyak orang. Itu bisa membuat aku lirik
cemburu.
Kalimat ketiga adalah Aku tidak mau melihat orang yang
kucintai berubah jadi patung di taman kota atau poster di dinding sekolah dan
diabaikan memiliki makna konotasi bahwa ketidakmauan aku lirik melihat
sang kekasih menjadi perhatian dan disukai banyak orang. Mungkin dalam hal ini,
bisa dikatakan sebagai model. Karena diasosiasikan dengan kata poster. Model
dan poster sama-sama mempunyai keadaan membawa kabar atau informasi tertentu.
Entah itu berupa pakaian atau pun teks.
1.2.2 Majas
Beberapa majas terlihat dalam puisi
“Ketidakmampuan”. Sehingga keutuhan puisi tersebut cukup menarik dibaca dan
diulas. Dari tiga kalimat yang tersedia. Beberapa majas bisa ditemui.
Kalimat pertama adalah Mereka
yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku--termasuk langit,
bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil, ditemukan majas hiperbola Mereka
yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku terutama pada
kata kekasih yang dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Di mana bertentangan apabila membayangkan Mereka yang asing dan tidak mengenal namaku bisa
menjadi kekasih. Di sini sangat terlihat bagian yang dilebih-lebihkan.
Kemudian terdapat majas asosiasi pada bagian perumpamaan di beberapa kata, di
antaranya, langit adalah penggambaran dari orang yang punya derajat di
atasnya. Bunga-bunga adalah penggambaran dari wanita. Buku-buku
tua adalah penggambaran dari guru-guru. Pagi adalah penggambaran
dari waktu yang sibuk. Segelas kopi adalah penggambaran
dari waktu luang. Anak kecil adalah penggambaran dari waktu bersenang-senang.
Kalimat kedua adalah Aku tidak ingin mencintai
pahlawan—mereka yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi
senyuman, terdapat majas ironi pada bagian mencintai pahlawan. Kata pahlawan digunakan untuk
mengibaratkan orang-orang yang dilihat dan dianggap hebat oleh orang banyak.
Kemudian terdapat majas metafora pada bagian mengubah penderitaan orang lain
menjadi senyuman. Kata senyuman
mengiaskan kebahagiaan. Kemudian bisa dikatakan bagian mengubah
penderitaan orang lain menjadi senyuman bermakna membuat orang yang
sedih menjadi bahagia. Dalam hal ini, sosok pahlawan dalam bait ini diumpamakan
sebagai sosok artis yang terkenal. Artis dikenal sebagai sosok yang bisa
membuat peminatnya senang.
Pada kalimat ketiga, yakni Aku
tidak mau melihat orang yang kucintai berubah jadi patung di taman kota atau
poster di dinding sekolah dan diabaikan terdapat majas perumpamaan atau
asosiasi pada bagian patung di taman kota atau poster di dinding
sekolah. Pada bagian tersebut, patung di taman kota mengiaskan
seorang yang terkenal dan menjadi perhatian banyak orang. Kemudian poster
di dinding sekolah mempunyai makna yang hampir sama dengan bagian majas
alegori sebelumnya.
1.2.3 Isotopi
Pada puisi “Ketidakmampuan”, terdapat empat
penggunaan isotopi. Isotopi yang hadir adalah benda, manusia, aktivitas, serta
ruang dan waktu.
1. Isotopi Benda
Kata/Frase yang
memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna
Bersama
|
|
Keras
|
Lunak
|
||
Bunga-bunga
|
d/k
|
-
|
+
|
Buku-buku tua
|
d/k
|
+
|
-
|
Segelas kopi
|
d/k
|
-
|
+
|
Patung
|
d/k
|
+
|
-
|
Poster
|
d/k
|
-
|
+
|
Dinding sekolah
|
d/k
|
+
|
-
|
Dalam isotopi benda, kata atau frase yang termasuk
adalah bunga-bunga, buku-buku tua, segelas kopi, patung, poster dan dinding
sekolah. Dari keenam kata atau frase tersebut, mempunyai makna denotasi maupun
konotasi dan punya sifat yang berimbang, antara keras dan lunak.
2. Isotopi Manusia
Kata/Frase yang
memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna
Bersama
|
|
Tunggal
|
Jamak
|
||
Kekasihku
|
d/k
|
+
|
+
|
Anak kecil
|
d/k
|
+
|
-
|
Pahlawan
|
d/k
|
+
|
+
|
Mereka
|
d
|
-
|
+
|
Aku
|
d
|
+
|
-
|
Orang lain
|
d/k
|
+
|
+
|
Dalam isotopi manusia, terdapat kata atau frase
kekasihku, anak kecil, pahlawan, mereka, aku dan orang lain yang bermakna
denotasi maupun konotasi. Kelima kata atau frase tersebut, didominasi oleh
keadaan tunggal.
3. Isotopi
Aktivitas
Kata/Frase yang
memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna
Bersama
|
|
Sebentar
|
Lama
|
||
Mengenal
|
d
|
-
|
+
|
Pandai
|
d/k
|
-
|
+
|
Penderitaan
|
d/k
|
+
|
+
|
Senyuman
|
d/k
|
+
|
-
|
Mencintai
|
d
|
+
|
+
|
Mengubah
|
k
|
-
|
+
|
Dalam isotopi aktivitas, kata atau frase yang termasuk
adalah mengenal, pandai, penderitaan, senyuman, mencintai, dan mengubah. Dari
keenam kata atau frase tersebut bermakna denotasi maupun konotasi, dan
didominasi dengan keadaan yang berlangsung lama.
4. Isotopi Ruang
dan Waktu
Kata/Frase yang
memiliki Isotopi
|
Denotasi/Konotasi
|
Komponen Makna
Bersama
|
|
Berwujud
|
Abstrak
|
||
Langit
|
d/k
|
-
|
+
|
Pagi
|
d/k
|
-
|
+
|
Taman kota
|
d/k
|
+
|
-
|
Dalam isotopi ruang dan waktu, terdapat tiga kata atau
frase, yaitu langit, pagi, dan taman kota yang mempunyai makna denotasi maupun
konotasi. Dari kata atau frase tersebut, didominasi oleh makna bersama abstrak.
1.3 Pragmatik
Dalam puisi “Ketidakmampuan”, aku lirik
sebagai persona pertama yang dibuktikan oleh kehadiran pronomina Aku dan
enklitik -ku, dan juga memandang persona ketiga yang dibuktikan oleh
kehadiran pronomina Mereka.
Kalimat pertama adalah Mereka
yang asing dan tidak mengenal namaku adalah kekasihku--termasuk langit,
bunga-bunga, buku-buku tua, pagi, segelas kopi dan anak kecil, dapat terlihat kehadiran persona
ketiga oleh kehadiran pronomina Mereka. Di mana aku lirik
menunjukkan persona ketiga yang asing dan tidak mengenal nama aku lirik,
dibuktikan oleh kehadiran enklitik –ku.
Kalimat kedua adalah Aku tidak ingin mencintai pahlawan—mereka
yang pandai dan mampu mengubah penderitaan orang lain menjadi senyuman,
terdapat persona pertama Aku yang menjadi tanda bahwa aku
lirik jelas sebagai pencerita utama di sini. Kemudian muncul kembali pronomina Mereka
yang menandakan persona ketiga.
Pada kalimat ketiga, yakni Aku
tidak mau melihat orang yang kucintai berubah jadi patung di taman kota atau
poster di dinding sekolah dan diabaikan sama seperti kalimat kedua,
terdapat persona pertama Aku yang menjadi tanda bahwa aku
lirik jelas sebagai pencerita utama di sini.
Dari uraian di atas, kehadiran pronomina
persona pertama menandakan aku lirik sebagai pencerita utama dan pembaca akan
merasa dekat ketika membaca puisi ini. Tidak ada kalimat langsung di puisi
“Ketidakmampuan” ini.
No comments:
Post a Comment