"Aku engga bisa sama kamu,"
"Kamu harus ngerti, gas,"
Dengan nada tinggi, Lisa menjelaskan sesuatu yang tidak mau didengar sama sekali oleh Bagas. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Namun, kenapa tidak mencobanya?
"Kamu engga bisa mutusin gini dengan sepihak. Kamu harus hargai perasaan ini.". Bagas jelaskan protesnya.
------
Sejak kejadian itu, Lisa tak sedikit pun mau berhubungan dengan Bagas. Bahkan tidak sepatah kata pun di WhatsApp. Anehnya, Lisa tidak mengungkapkan alasan kenapa penolakan terus dilontarkan terhadap perasaan asmara Bagas. Padahal, Lisa sangat menyukai sikap perhatian Bagas yang selalu membelikan Es Teh Manis sebelum masuk kuliah.
Tidak ada seorang pun yang tau kenapa Lisa dan Bagas tidak seperti biasanya baru-baru ini. Termasuk Laras, kawan baik Lisa. Laras menjadi kawan baik Lisa semenjak berada dalam satu kelompok Kajian Drama dengan Lisa.
"Lis, mana Pangeran Kodok lu?" tanya Laras.
"Siapa? Bagas? Dia lagi sibuk kali." jawab Lisa dengan nada acuh.
"Eh, lu tau gak, si Bagas kemarin juara Lomba baca Puisi loh. Bagas cowo idaman banget ya, udah baik, cakep, puitis lagi. Lu emang beruntung lis." Laras.
"Gue bukan siapa-siapanya dia." tegas Lisa.
"Hah! Serius lu? Makna lu deket sama dia dua bulan ini apa lis?" bingung Laras.
"Engga. Itu mungkin karena dia kegeeran aja."
"Ada satu hal yang membuat gue gak bisa sama dia." jawab Lisa.
Laras makin bingung dan baru tau tentang ketidakjelasan hubungan Lisa dan Bagas. Padahal dalam pandangannya hubungan mereka baik-baik aja, bahkan kaya lagi pacaran.
------
Sebulan yang lalu
"Kamu kenapa perhatian gini ke aku?" Tanya Lisa.
"Kenapa kamu tanya itu? Seharusnya aku yang tanya ke kamu. Kenapa kamu selalu menaruh rindu?" Jawab Bagas dengan tengil.
"Bagaaaaaas!" Respon Lisa sambil tersenyum malu.
Tidak ada seorang pun yang tau kenapa Lisa dan Bagas tidak seperti biasanya baru-baru ini. Termasuk Laras, kawan baik Lisa. Laras menjadi kawan baik Lisa semenjak berada dalam satu kelompok Kajian Drama dengan Lisa.
"Lis, mana Pangeran Kodok lu?" tanya Laras.
"Siapa? Bagas? Dia lagi sibuk kali." jawab Lisa dengan nada acuh.
"Eh, lu tau gak, si Bagas kemarin juara Lomba baca Puisi loh. Bagas cowo idaman banget ya, udah baik, cakep, puitis lagi. Lu emang beruntung lis." Laras.
"Gue bukan siapa-siapanya dia." tegas Lisa.
"Hah! Serius lu? Makna lu deket sama dia dua bulan ini apa lis?" bingung Laras.
"Engga. Itu mungkin karena dia kegeeran aja."
"Ada satu hal yang membuat gue gak bisa sama dia." jawab Lisa.
Laras makin bingung dan baru tau tentang ketidakjelasan hubungan Lisa dan Bagas. Padahal dalam pandangannya hubungan mereka baik-baik aja, bahkan kaya lagi pacaran.
------
Sebulan yang lalu
"Kamu kenapa perhatian gini ke aku?" Tanya Lisa.
"Kenapa kamu tanya itu? Seharusnya aku yang tanya ke kamu. Kenapa kamu selalu menaruh rindu?" Jawab Bagas dengan tengil.
"Bagaaaaaas!" Respon Lisa sambil tersenyum malu.
"Lisa, dengerin aku. Jangan kamu tanyakan kenapa aku perhatian ke kamu. Tanya pada diri kamu sendiri. Maksud aku bersikap seperti ini ke kamu itu apa?" Bagas menyata.
"Bagas. Kamu pikir aku peramal?" Lisa menjawab dengan agak kesal.
"Bukan. Bukan itu maksud aku. Aku tau, kamu pasti paham." tegas Bagas.
------
Antipode; orang-orang yang saling bertentangan atau berlawanan pendirian; mengartikan bahwa Bagas dan Lisa tidak akan bisa bersama karena ada alasan yang membuat mereka bertentang.
No comments:
Post a Comment