Novel Memeluk
Kehilangan karya Faisal Syahreza mempunyai gaya bahasa bertemakan
romantisme. Hal itu terbukti dari banyaknya kata-kata kiasan yang tercantum di
dalamnya. “...Tapi tak perlu cemas, kita
masih bersama, bukan? Tak ada yang bisa memisahkan persahabatan sejati yang sudah
dijalani dengan hati yang murni....” (Hal. 151). Kata hati yang murni di sini yang bermakna hati yang dipunyai orang
baik, jujur dan tidak suka berkhianat jika kita merujuk ke dalam konteks
persahabatan sejati di kalimat tersebut.
Atau juga “...Marischa, yang bila tersenyum benda-benda di sekitarnya ikut
bercahaya, aku kita menjadi suamimu. Setelah aku menyalami papamu di hadapan
penghulu, kuucapkan ikrarku. Dan seluruh hidupmu kini telah berpindah ke
pundakku...” (Hal. 159). Di kata bila
tersenyum benda-benda di sekitarnya ikut bercahaya, dimaknai bahwa saat
Marischa tersenyum, senyumnya selalu mengeluarkan aura positif, bahkan
benda-benda pun senang dan seolah bercahaya karena senyumnya. Kemudian di kata Dan seluruh hidupmu kita terlah berpindah ke
pundakku dimaknai bahwa setelah ia menikah, seluruh tanggung jawab untuk
menjaga dan merawat serta hidup bersama beralih kepada suaminya, yaitu Neka.
Gaya bahasa seperti ini cenderung disukai anak muda di zaman sekarang. Apalagi
dengan tema yang mengambil masalah cinta. Banyak kalimat-kalimat yang pantas
dijadikan inspirasi dalam menjalani hidup. Anak muda membutuhkan hiburan yang
sekiranya berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari. Tentang perasaan dan
hubungan asmara tentunya.
Novel ini bercerita tentang Neka, seorang
pria yang puitis dan Marischa, wanita pujaan Neka yang sebenarnya sudah dekat
sedari dulu, tapi Marischa memutuskan untuk berpacaran dengan pria lain. Hingga
akhirnya iya bertemu dan Marischa bercerita kalau ia sudah tidak berhubungan
lagi dengan pria lain itu. Neka akhirnya kembali berhasrat untuk menikahi
Marischa. Juga ada Lumi dan Yuki, dua wanita yang pernah juga didambakan Neka.
Sungguh unik.
Seperti yang kita ketahui, buku ini
menjadi buku pertama dari Faisal Syahreza, sekaligus menjadi penanda bahwa Kang
Faisal, panggilan akrabnya, akan menjadi penulis Novel bergenre Romantis. Kang
Faisal akan bersaing dengan penulis-penulis lain yang sudah ulung di genre ini.
Walaupun tidak mudah bagi Kang Faisal menarik minat pembaca, tentu saja karena
tendensi pembaca yang menyukai gaya bahasa yang ada di buku-buku Kang Faisal.
Yang menjadi menarik adalah, buku Memeluk Kehilangan ini tidak dimuat “Kata
Pengantar” oleh pengarangnya. Saya tidak tahu apa alasan tidak dicantumkannya “Kata
Pengantar” oleh pengarang. Saya berprasangka mungkin sang pengarang sengaja
tidak memuat “Kata Pengantar” dan langsung menuju ke awal cerita di novel ini.
Hal ini menjadi salah satu keunikan buku ini. Karena yang saya tahu, bahkan
penulis-penulis lain mengandalkan “Kata Pengantar” untuk memperkenalkan buku
atau diri pribadinya.
Selain itu, sang pengarang membuat dua
persepsi dan sudut pandang tokoh di buku ini. Kadang tokoh utama adalah
Marischa, juga kadang tokohnya menjadi Neka, ada juga Yuki dan Lumi, gebetan
yang pernah Neka dekati. Mungkin ini agak asing dibaca khalayak umum, namun
pasti menarik karena ini akan jadi ciri khas buku ini.
***
Setelah kita membaca novel ini, pasti kita
akan merasakan refleksi akan perasaan yang mungkin sama seperti apa yang telah
digambarkan pengarang di novel ini. Ada beberapa cerita di novel ini yang
mungkin banyak di alami oleh pembacanya. Membuat nostalgia muncul, dan menjadi
nyamanlah si pembaca. Buku ini sangat cocok menjadi konsumsi anak muda seperti
saya. Karena bahasanya yang nyaman dibaca. Belum lagi mengangkat tema
percintaan.
Ditutup dengan penggalan favorit saya dari
novel ini. Bisakah aku membawa setiap
tawamu yang mekar dari mulutmu? Aku ingin memasukkan setiap kepingannya yang
mengembang itu ke dalam saku. Jadi, Lumi, setiap kali aku merasa penat, aku
akan mengambilnya lalu kudengarkan hingga membuat aku tahu, hidupku sungguh
amat menyenangkan jika kudengar kamu bahagia. (Hal. 87)
***
Mulai ditulis pada 09 Mei 2017
No comments:
Post a Comment