The Legend of Aang: Pengendali Keadilan


Aang terbangun dari tidurnya. Sepucuk surat masih tergeletak di perutnya. Ia tidak ingat kejadian apa yang membuat ia tiba-tiba pulas.


***

"Hai, Aang. Akhirnya kau bangun juga. Bagaimana hasil latihanmu, kemarin? Sudah kau kuasai jurus api tingkat empat itu," ternyata sejak tadi Katara ada di sampingnya, sedang melakukan kebiasaannya: menonton klip video musik EXO di Youtube. Padahal tidak akan ada bedanya. Video itu tidak akan berubah menjadi klip video musik Kangen Band, kan?

"Sepertinya aku butuh waktu dua pertemuan lagi. Kemarin aku kehabisan kuota. Aku baru sadar, aku bukan pengendali kuota," jawab Aang sambil menggaruk punggungnya. Latihannya berlangsung daring. Ia hanya sempat melihat Zuko memberikan materi praktiknya, ia belum sempat mempraktikkannya.

"Oh, iya, Katara. Kau tahu sejak kapan surat ini ada di depan rumah? Aku sudah membacanya. Aku bingung mengapa surat ini bisa sampai ke sini," sambil wajahnya berkerut Aang menatap lagi bagian awal surat yang mengatakan surat ini berasal dari Sekretariat Negara Indonesia.

"Dia pikir, aku bisa? Ya sudah, aku mau mandi dulu. Katara, aku pinjam scrubmu, ya."

***

Surat yang ditandatangani oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo itu kini tanpa perhatian, duduk di lantai. Aang tidak habis pikir dengan tujuan surat ini kepadanya untuk menunjuk ia menjadi apa yang tertulis di tengah surat.

"DENGAN INI KAMI INGIN MENUNJUK BAPAK AANG UNTUK MENJADI PENGENDALI KEADILAN DI NEGARA KAMI ...," tertulis di sana, kapital dan tebal semua.

No comments:

Post a Comment

Palung Terdalam

Arsip Ulun