Jujur, ku memang tak --belum-- pandai mencintai. Belum pandai mengayomi. Belum pandai peduli. Dalam hati, terus meminta, untuk jangan mencintai dengan buta. Harus mencintai karena hati.
Mengenalmu, menyadarkanku untuk pergi dari semu. Mengagumimu, tak selama menunggu penyajian jamu. Mungkin menemuimu, butuh mental setara beratnya dengan ... Tapi bukan itu yang kumaksud. Sekali lagi kubilang, ku tak pantai mencinta, tak pandai merangkai kata-kata mesra, apalagi menjagamu dengan serta merta.
Huh, memang payah. Sangat payah.
![]() |
| Pemanis, walau tak lebih manis darimu. |
Wahai, bidadari pengendali rindu. Itu sebutan spesial untuk perempuan hebat sepertimu. Kadang kesal bila tak dikabari. Tapi kumencoba intropeksi, mungkin aku yang tak tau diri. Entahlah, aku (dan mungkin kamu), sama-sama berharap, agar kita selarap.
Coretan sajak pertama, untukmu wahai puja. *Sri Wulandari*
Batujaya tercinta, 12 Maret 2017 16.48 WIB.

No comments:
Post a Comment